Colenak

hawu, ditiup na make sing a song

Sore itu, awal Desember 94, hujan lebat masih mengguyur Cileuleus sejak pulang sekolah siang tadi. Masa itu pergantian musim memang masih bisa diprediksi. Bulan-bulan dengan akhiran “ber” bisa dipastikan akan mengalami musim hujan, seperti halnya bulan Desember itu. Seperti sore biasanya, saya main ke rumah nenek yang tepat berada di depan rumah saya untuk mendengarkan lanjutan serial dongeng Si Rawing jago tutugan yang dibawakan oleh Wa Kepoh dan disiarkan radio Galuh (dulu sih tagline nya “radio dangdut kota Tasik”, gak tau sekarang, masih ada kah?)
.
Bila nasib mujur menghampiri, biasanya suguhan peuyeum sampeu (tape singkong) segera terhidang, yang telah dimodifikasi dengan cara dibakar /dipanggang di atas tala, pemanggangan sederhana yang terbuat dari gerabah/genteng yang diletakkan di atas hawu (kitchen set nya tempo dulu yang tersusun dari batu bata dengan finishing tanah liat). Peuyeum bakar tersebut kemudian dicocolkan pada kinca (gula merah yang dibuat karamel ditambah santan). Yang tentu saja rasanya enak di lidah dan lumer di mulut seperti halnya ice cream walss magnum. col deui…col deui. Mungkin karena itulah panganan ini lebih akrab dengan sebutan “colenak”. Musim hujan yang dingin, siduru di depan hawu dengerin dongen Wa Kepoh sambil menikmati teh panas dan colenak benar-benar sensasi yang luar biasa, terasa lebih nyaman dibandingkan nongkrong di Blitz Megapleks.

colenak, bibit champage orang Sunda

Apa yang membuat colenak nikmat disaat musim hujan yang dingin?
Bila diteliti lebih dalam, ternyata colenak yang berbahan dasar peuyeum sampeu tersebut mengandung berbagai nutrisi seperti: Lemak, karbohidrat, protein, amilum dan posfor. Selain itu, setiap 100 gram peuyeum terdapat 82 mikrogram vitamin B1, 23 miligram fosfor, dan 28 miligram kalsium. Di dalam peuyeum terdapat enzim protease dan lipase yang pada saat fermentasi, gula-gula akan diubah menjadi alkohol, asam-asam organik dan gas karbondioksida. Seperti yang kita tahu bahwa orang-orang di negara beriklim trunda dan sub tropis memanfaatkan kandungan alkohol pada anggur, wine atau champagne untuk menghangatkan badan mereka.
.
Tapi jangan mentang-mentang alkohol bermanfaat untuk menghangatkan badan, lalu kita yang hidup di wilayah tropis, derr minum wine atau champagne, atuh puguh wee mabok, da tidak cocok dengan kondisi cuaca dan badan kita. Kita mah ku peuyeum ge tos cekap untuk menghangatkan badan mah.

    • Arsanthy
    • Maret 25th, 2011

    Kayaknya enak tuch,
    ada yang jualan ga yach ?

    • Poliany
    • Maret 25th, 2011

    Hawu sama seeng, meni waas !

    • Kata Nenek saya, Seeng itu alat komunikasi Aki Balangantrang untuk menelepon Nini Anteh yang sedang berada/piknik di bulan. (cenah)

    • Budiyanto
    • Maret 26th, 2011

    Mas Dani, kirim donk Colenaknya ke Solo…!!

    • Rania
    • April 30th, 2011

    Manis banget kayaknya, tuh !

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: