Telapak Kaki di Pasir

Tadi malam saya bermimpi berjalan-jalan di pinggir pantai bersama dengan Tuhan. Sementara di langit, terpapar layar bioskop raksasa yang menayangkan rentetan perjalanan hidup saya sejak kecil. Secara berurutan, satu demi satu episode kehidupanku ditayangkan. Mengiringi setiap adegan selalu terlihat dua pasang telapak kaki di pasir pantai. Yang sepasang adalah kaki saya, dan sepasang lagi adalah “telapak kaki” Tuhan yang selalu menyertaiku.

Bak tersihir, mata ini tak berkedip menatap layar. Anehnya, setiap layar menayangkan masa-masa sulit, misalnya saat saya down karena kehilangan kedua orang tua secara bersamaan, ketika frustasi karena perusahaan tempat saya bekerja ditutup, atau saat saya difitnah teman, yang terlihat di pasir hanya sepasang telapak kaki saja.

“Ya, Tuhan. Bukankah ketika saya memutuskan ikut denganMu, Kau akan selalu menyertai hidupku. Tapi justru di saat saya menderita dan diterpa kesulitan, mengapa Tuhan meninggalkanku? buktinya, yang terlihat yang terlihat di pasir hanya sepasang telapak kaki?” Saya bertanya kepada Tuhan.

“Anakku, Aku selalu mengasihi kamu. Aku takkan pernah meninggalkanmu sendirian. Saat kamu menderita atau jatuh dalam kesulitan, memang hanya terlihat sepasang kaki saja. Ketahuilah itu kakiKu karena Aku sedang menggendongmu”

Saya sungguh malu pada Tuhan. Teringat kisah pilu Charlotte Bronte (1816-1854) pengarang Inggris yang terkenal dengan novelnya Jane Eyre. Kesedihan demi kesedihan yang dialami sejak kecil membuat Charlotte pasrah pada kehendakNya. “Hidup ini sedemikian constructed sehingga sebuah kejadian kecil pun tidak bisa, tidak akan bisa, tak pernah bisa sesuai dengan kehendak kita.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: