Tangan Dalam Botol

Menarik untuk merenungkan kembali apa yang yang disampaikan Eric Butterworth dalam bukunya The Universe is Calling (Harper Collins Publishers, 1994). Salah satu ilustrasinya, metode unik yang dipakai orang Amerika Serikat dalam menangkap monyet di hutan afrika untuk dikirim keberbagai kebun binatang di AS.

Dengan cara amat manusiawi, para pemburu menggunakan sebuah botol besar dengan leher yang sempit sebagai perangkap,. Umpannya berupa kacang-kacangan dan buah-buahan. Umpan itu ditaruh di dalam botol. Tujuannya, agar monyet bisa ditangkap hidup-hidup tanpa terluka. Pagi hari botol-botol itu ditaruh di hutan, lalu esoknya para pemburu datang lagi untuk mengecek monyet yang terperangkap.

Bagaimana monyet itu diperdaya?
Begini, karena tertarik oleh warna dan aroma yang menyengat, para monyet mendatangi botol-botol itu. Mereka lalu mencoba meraih buah atau kacang itu dengan memasukkan tangannya ke dalam botol. Kalau sudah begini, mereka tidak akan bisa lagi menarik tangannnya keluar botol selama tangannya menggenggam kacang atau buah. Mereka tak mampu membawa botol itu karena berat.

Barangkali kita akan menertawakan betapa tololnya monyet-monyet itu. Padahal, tanpa sadar kita sering berprilaku seperti mereka, memegang erat problem hidup yang kita hadapi. Ibaratnya, menenteng-nenteng “botol problem” kemana-mana. Artinya kita membiarkan diri terperangkap dalam botol problem itu. Mengasihani diri, seolah merasa sebagai manusia yang paling menderita, paling sengsara, paling miskin, dsb. Ke sana ke mari pasang muka memelas, minta belas kasihan orang lain, berdoa siang-malam memohon pertolongan-Nya.

Padahal kita tahu, Tuhan tak akan memberi beban yang tak bisa kita tanggung. Dari sini bisa ditarik kesimpulan atas pesan yang disampaikan Butterworth. salah satunya, Praying is listening. Bukan melulu minta agar sesuatu menjadi baik, tapi melihat sesuatu dengan sebaik-baiknya. Mangamati sesuatu dari tempat yang tinggi, agar mampu melihat “lebih dari sekedar yang tampak”. Dengan begitu, kita akan bisa menemukan jalan keluar. Tidak perlu harus terperangkap dengan tangan di dalam botol. Dengan begitu kita bisa bersyukur.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: