My First PRAMUKA Event

Pagi itu ditengah hiruk pikuk anak-anak berseragam cokelat dan berbaret, suasana gaduh sekali. puluhan anak naik pada sebuah truk besar yang sebelumnya telah dipenuhi peralatan camping mulai dari tenda, tongkat bambu, lambang Gudep, sampai pagar bambu pembatas. Ya,..suasana kacau sekali, tapi yang pasti mereka bukan segerombolan pengungsi yang dikejar-kejar lahar gunung Galunggung, mereka adalah anak-anak PRAMUKA tingkat Siaga dan Penggalang yang akan ikut serta memeriahkan pesta perkemahan di Cigorowong. Bisa dibayangkan kacau balaunya anak-anak dari tiga SD berbeda, diangkut dalam satu buah truk plus barang-barang bawaan lainnya, tinggal di kukus, jadi pindang deh.

Entah mengapa, yang saya rasakan saat itu happy-happy aja. Sepanjang jalan kami bernyanyi dengan riang dan jenaka. Ketika truk kami yang bertuliskan “1000 ligir” itu melewati perkampungan, nyanyian kami makin lantang, seolah ingin memproklamirkan diri bahwa saya adalah seorang PRAMUKA.
Tiba di lokasi perkemahan, suasana ternyata tidak lebih baik. Ribuan anak dari ratusan Gudep yang baru menurunkan muatan, layaknya kuli angkut di pelabuhan Tanjung Priuk yang berebut memilih barang bawaan yang paling ringan. Mendirikan tenda pun ternyata bukan perkara gampang,setidaknya butuh 3 jam lebih untuk mendirikan rumah baru kami tersebut, meski kami pun tidak yakin apakah tiang yang kami pancangkan dengan susah payah itu akan aman bila disenderi anak berbadan subur.

Sebenarnya terlalu banyak cerita unik saat perkemahan itu saya alami, mungkin karena camping itu adalah acara PRAMUKA yang pertama bagi saya ketika SD, sehingga pengalaman yang didapat seolah menjadi pondasi bagi kemandirian saya kelak. Satu hal yang paling tidak ingin saya lupakan adalah acara penjelajahan, yaitu pencarian jejak yang terbagi dalam beberapa pos yang menguji kekuatan fisik dan mental menjelajahi perkampungan dan hutan. Kenapa tak ingin dilupa? karena saat itu saya merasa sangat dibutuhkan oleh pasukan saya (he..he..). Saat itu saya menguasai beberapa macam sandi, seperti sandi kotak, sandi rumput (yang notabene berdasar pada sandi morse). Bahkan saya mengerti tulisan cacarakan aksara sunda yang saat itu digunakan dalam PRAMUKA. Sandi-sandi tersebut digunakan pada game-game setiap posnya yang merupakan petunjuk untuk bisa melangkah ke pos berikutnya. Satu hal yang sangat saya sesali adalah bahwa saya tidak menguasai Semaphore, padahal sandi inilah yang justru menjadi ciri khas PRAMUKA. Saya sangat susah menguasai karena saat itu saya bingung membedakan antara kiri dan kanan. (ahli psikologi bilang itu Spatial Thinking, tapi sekarang tidak donk). Tapi saya gak ambil pusing. Toh, hansip juga gak bisa semaphore, tapi bisa kok mengarahkan mobil jendral. (o)

Hal lain yang membekas di ingatan adalah malam perenungan dan api unggun. Orang bilang, ini adalah saat yang menyedihkan karena merupakan malam terakhir. Tapi waktu camping itu, saya kok kehilangan moment menyedihkan itu ya… Yang ada hanya keributan di pasukan kami karena kepala regunya salah memberi instruksi. Pembina memerintahkan bawa lilin, ini malah menyuruh bawa tongkat. Kebayang dong, ketika orang lain merenung dengan lilin-lilin kecilnya penuh khidmat, kita malah siap siaga memakai seragam lengkap paket komplit dengan tongkatnya. Tapi yang pasti, setelah renungan itu selesai, acara dilanjutkan dengan pesta perpisahan api unggun yang dilengkapi dengan acara pentas seni yang diisi perwakilan tiap gudep. Satu pengisi acara yang menarik adalah dari salah satu tim PRAMUKA penegak, yaitu menyanyikan lagu dank dut “Janur Kuning”nya Noerhalimah. Saya tidak heran karena tahu siapa yang tampil (masih sekampung). Beberapa pekan sebelumnya pernah menjuarai lomba karaoke lagu Evi Tamala di sebuah radio lokal di Tasik. Secara serentak, malam yang sebelumnya dipenuhi hening, menjadi malam yang panas. Barisan PRAMUKA tidak ada yang bisa bersikap sempurna. Lutut ini serasa disetrum dan di goyang-goyang. Saraf Otak sudah tidak berfungsi lagi untuk mengendalikan tubuh kami yang lebih respon mengikuti geolan gendang.
Lalu renungan suci tadi? ah,..untung tidak beli lilin untuk dibakar percuma. he..he.. kacau sekali suasana.

    • Ali Zainal
    • April 30th, 2011

    Saya jg dulu pernah camping di Cigorowong, Tasik dan ikut acara api unggun yang ada dangdutannya,
    apakah kita berada pada acara PRAMUKA yang sama

    • Ali Zaenal
    • April 30th, 2011

    Siapa penyani nya, Kang ?
    Katanya sekampung.

    • Klo gak salah, namanya Melly Yuniar.
      Gosipnya, kemudian menjadi salah satu vokalis group Al manar.

    • Sthepani Maedina
    • April 30th, 2011

    Saya tertarik tulisan yang di truk.
    “1000 ligir” itu artinya seribu ligir ?

    • Nenk Mae, dibacanya pake ejaan Sunda
      “1000 ligir” dibaca sarebu ligir = sare biligir
      Merupakan tulisan-tulisan kreatifitas pemilik truk.
      Katanya ekspresi diri. he…he..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: