You Raise Me Up

Terpilihnya Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Somantri sebagai rektor termuda bagi Universitas Indonesia, terlebih kemudian menorehkan prestasi, cukup membanggakan bagi saya. Saya memang bukan mahasiswa UI ataupun alumni UI, tapi saya ikut bangga karena beliau berasal dari Tasikmalaya dan berasal dari SMP yang sama (alasan yang gak masuk akal ya…, ga pplh). tepatnya beliau berasal dari Sukaratu, selatan Galunggung dan bersekolah di SMPN 1 Cisayong, utara galunggung. Bayangkan perjalanan yang ditempuh saat itu, berjalan kaki menembus Galunggung. Tapi hal demikian ternyata tidak menghalangi seseorang untuk bermimpi dan bercita-cita. Kesahajaan yang menginspirasi.

I’m walking away from the troubles in my life, I’m walking away to find a better day, I’m walking away ....

Ketika disinggung mengenai SMPN 1 Cisayong, Saya jadi teringat pada masa SMP waktu itu. Tidak ada peristiwa yang spesial sebenarnya, hanya saja yang masih teringat adalah perjuangan runaway from Cileuleus to cisayong yang ditempuh dengan happy walking naik turun tanjakan (ceuk nu gede wadul mah, turun gunung unggah gunung), tapi itu memang yang saya rasakan. Ketika musim kemarau, sepanjang jalan kami menjadi kering kepanasan, terutama kawasan Sawahlega yang lumayan panjang (lamun pirajeunan nyuhun cau mah, uyuhan teu jadi sale)
Ketika musim hujan, kehujanan bukan hal baru. Untuk menunggu sepatu kering, harus di simpan di dekat perapian. Petir dan guludug adalah soundtrack alam yang horor dan menakutkan bagi kami. Makanya ketika Josh Groban menyanyikan tembang You raise Me Up dengan syair berikut:
You raise me up so I can stand on mountains
You raise me up to walk on stormy seas
I am strong when I am on your shoulders
You raise me up to more than I can be

Kayaknya dia memang terinspirasi dari kisah hidup kami yang sangat mengharukan.

Tapi tak mengapa, kami menjalani perjalanan itu dengan semangat full. sehingga gaya berjalan kami dikenal dengan nama Cileuleusan (strategi mudun nurugtug, nanjak nyenghap tea, dengan ritme napas pada ketukan 4/4, alias ngahegak. Kalau gak kebayang, coba lihat gaya berjalan cepat orang-orang Jepang di distrik Ginza, tokyo).

Kami tidak tahu apakah gelar Cileuleusan itu sebuah sanjungan atau pelecehan?
Entahlah, yang kami pikirkan saat itu hanya bagaimana caranya agar jarak 5 KM(10 KM PP) itu bisa ditempuh dengan cepat agar tidak terlambat menjumpai ilmu yang selalu ramah menunggu kami, meskipun pada kenyataannya dibutuhkan beberapa saat untuk mendinginkan otak kami agar bisa menerima keramahan itu.
hmm…….
But, I am strong, to more than I can be.

    • Refina
    • Mei 24th, 2011

    Benar-benar mengharukan, ya ! he..he..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: