Tuna Netra Penakluk Everest

Erick Weihenmayer, meraba dengan rasa.

Apakah kita pernah bayangkan, ketika kita menikmati secangkir bandrek panas di atas puncak Mount Everest?
Bagi kita, mungkin saja hal ini hanya sebuah mimpi yang membutuhkan perjuangan yang hebat untuk sebuah keberanian dalam memulainya. Ini benar-benar mendaki lho..! bukan seperti di Galunggung, yang untuk menuju puncaknya, tinggal meniti tangga saja. Apalagi gosipnya tahun 2012 mendatang, tangganya akan diganti dengan elevator (Petualangan yang aneh)
.
Menjadi bagian dari 3000-an pendaki puncak Everest dari seluruh dunia memang sebuah catatan prestasi yang sangat luar biasa, terlebih bagi seorang Erick Weihenmayer. Pendaki puncak tersebut dipuja bukan hanya karena memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Dengan berhasilnya mencapai puncak setinggi 8.848 m dpl. dengan segala hambatannya seperti cuaca yang ekstrim, stock udara yang menipis, juga jalan terjal dan curam yang siap menggelincirkan pendaki lengah ke ujung jurang yang teramat dalam. Tapi yang paling menakjubkan adalah pendaki itu seorang tuna netra. (Padahal kitapun yang memiliki fisik sempurna, belum tentu punya motivasi sekuat itu)

Everest, ketinggiannya menggusur kavling dewa Kahyangan

Kebutaan yang di alami Erick sebenarnya tidak dialami sejak lahir, namun penyakit bawaan Retinochisis ( gangguan genetik yang biasanya dibawa dari ibu berupa gangguan penglihatan karena perpecahan retina di tengah sehingga menyebabkan hilangnya penglihatan mata secara bertahap, hingga buta total) telah membuatnya mengalami kebutaan total pada usia 13 tahun. Meskipun demikian, Ia tak kehilangan semangatnya untuk bisa mendaki gunung. Puncak prestasinya ketika Ia berhasil menjadi orang buta pertama yang menaklukkan puncak Everest pada tahun 2001.
.
Tidak hanya berhenti di sana, Erick mencoba menaklukkan puncak lainnya yang menjadi impian para pendaki gunung di seluruh dunia. Diantaranya, pada tahun 2008 Ia berhasil menaklukan Cartensz Pyramid di punjak Jayawijaya, yang membuat Erick Weihenmayer menjadi salah satu pendaki yang berhasil menaklukkan seven summit, tujuh puncak tertinggi di setiap benua (Everest, Aconcagua, Denali, Kilimanjaro, Elbrus, Vinson dan Carstenz Papua).

Hmm..benar-benar luar biasa. Kalau ada pepatah yang mengatakan bahwa “Tuhan itu maha adil”, memang benar adanya. Pada setiap kelebihan pasti ada kekurangannya. Begitu pula pada setiap kekurangan pasti dilengkapi dengan kelebihannya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: